
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Barsh, menyampaikan kepada AFP bahwa total korban luka akibat serangan tersebut mencapai sedikitnya 20 orang. Ia menegaskan, sasaran serangan merupakan warga sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran.
“Serangan yang dilakukan oleh pihak pendudukan menargetkan warga sipil yang berada di tenda pengungsian serta sebuah apartemen,” ujar Barsh dalam keterangannya.
Menurutnya, aksi militer tersebut menunjukkan pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Situasi ini diperparah dengan kondisi layanan kesehatan di Gaza yang semakin tertekan akibat keterbatasan pasokan medis.
“Israel terus melakukan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata, sementara rumah sakit menghadapi kekurangan obat-obatan, perlengkapan medis, dan fasilitas penunjang kesehatan,” lanjutnya.
Saham yang berpotensi hari ini : BBCA, BMRI, ISAT & RAJA, IHSG berpeluang
Sebagaimana diketahui, gencatan senjata di Jalur Gaza dimediasi oleh Amerika Serikat dan mulai diberlakukan sejak Oktober 2025. Kesepakatan tersebut kini telah memasuki tahap kedua sejak Januari 2026, yang mencakup agenda perlucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel secara bertahap, serta rencana pengerahan pasukan stabilisasi internasional.
Namun, serangan udara terbaru ini menimbulkan kekhawatiran akan rapuhnya kesepakatan damai dan berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.***