
Salah satu kasus paling menyita perhatian terjadi di Inggris dan menimpa Ellen Mercer, mahasiswi berusia 24 tahun yang tengah mengandung enam bulan. Mercer diketahui menghirup dua hingga tiga tabung besar nitrous oxide setiap hari dalam waktu lama. Kebiasaan tersebut menyebabkan gangguan kesehatan berat, termasuk kelumpuhan, trombosis vena dalam, serta tromboembolisme paru.
Kondisi Mercer memburuk ketika ia dilarikan ke rumah sakit akibat tidak mampu berjalan, ditambah luka bakar di kakinya yang disebabkan oleh tabung gas yang bocor. Meski sempat mendapatkan perawatan medis, nyawanya tak tertolong dan ia meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah dirawat. Koroner senior setempat menyimpulkan bahwa penyalahgunaan nitrous oxide, ditambah kondisi tubuh yang tidak bergerak dalam waktu lama, menjadi faktor utama penyebab kematiannya. Diketahui pula, Mercer memiliki riwayat gangguan bipolar yang disebut tidak mendapatkan pendampingan medis optimal.
Tragedi tersebut menjadi alarm keras akan bahaya gas tertawa yang kerap dianggap sepele karena statusnya yang legal. Kasus Mercer juga memicu seruan luas di Inggris mengenai pentingnya edukasi, pengawasan, dan pencegahan penyalahgunaan nitrous oxide, khususnya di kalangan anak muda.
Isu whip pink kembali mencuat di Indonesia setelah gas tersebut disebut-sebut berkaitan dengan kematian selebgram Lula Lahfah. Lula, yang dikenal sebagai kekasih YouTuber Reza Arap, ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan pada Rabu (28/1/2026). Di lokasi kejadian, polisi mengamankan sejumlah tabung berwarna pink yang diduga berisi nitrous oxide.
Hingga kini, Polres Metro Jakarta Selatan telah memeriksa sedikitnya 10 orang saksi. Aparat kepolisian menegaskan bahwa penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik, serta meminta publik untuk tidak berspekulasi sebelum ada pernyataan resmi.
Selain kasus Mercer, Inggris juga mencatat kematian remaja bernama Joseph Benett pada Oktober 2012. Remaja 17 tahun itu meninggal dunia setelah mencoba menghirup zat yang ia kira gas tertawa. Hasil investigasi menunjukkan Benett keliru menggunakan semprotan aerosol beracun, bukan nitrous oxide murni, yang kemudian menyebabkan kematian.
Gunakan KKPD untuk Judi Online, Camat Dicopot dari Jabatan
Meski melibatkan kesalahan penggunaan bahan kimia, kasus Benett kembali menegaskan tren meningkatnya korban akibat penyalahgunaan zat yang kerap disebut sebagai “narkoba legal”. Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa nitrous oxide tetap memiliki potensi bahaya serius, mulai dari gangguan pernapasan, masalah jantung, hingga kerusakan saraf akibat defisiensi vitamin B12 bila digunakan secara terus-menerus.
Serangkaian kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat, orang tua, serta institusi pendidikan akan pentingnya kewaspadaan dan edukasi terkait bahaya inhalan, termasuk gas tertawa, yang kerap disalahartikan sebagai zat aman karena peredarannya yang relatif mudah.***