Website Thinkedu

Ilmuwan Temukan ‘Titik Akhir’ Kehidupan di Bumi, Ini Penyebabnya

Ilmuwan Temukan ‘Titik Akhir’ Kehidupan di Bumi, Ini Penyebabnya
Foto : Freepik
Lingkaran.id - Kehidupan di Bumi selama ini bergantung pada ketersediaan oksigen yang terasa begitu alami dan tak terbatas. Namun, di balik kenyamanan tersebut, para ilmuwan mulai mengkaji pertanyaan besar, sampai kapan atmosfer Bumi mampu menopang kehidupan seperti saat ini.

Sejumlah peneliti dari Universitas Toho, Jepang, mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui penelitian berbasis simulasi ilmiah. Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience pada 2021 itu mengungkap prediksi mengejutkan mengenai masa depan kehidupan di planet ini.

Ancaman PHK Massal PPPK Menguat, Kebijakan Anggaran Jadi Sorotan
 

Dengan memanfaatkan pemodelan yang dikembangkan oleh NASA serta dukungan simulasi superkomputer, para ilmuwan melakukan analisis mendalam terhadap evolusi atmosfer Bumi. Mereka menggabungkan model biogeokimia dengan model iklim untuk memperkirakan berapa lama kadar oksigen dapat bertahan pada tingkat yang mendukung kehidupan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menjalankan hingga 400.000 simulasi untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan perubahan atmosfer. Pendekatan ini menghasilkan estimasi bahwa atmosfer Bumi akan tetap memiliki kadar oksigen memadai selama sekitar 1 miliar tahun ke depan.

Salah satu peneliti, Kazumi Ozaki, menjelaskan bahwa usia biosfer Bumi telah lama menjadi topik diskusi dalam dunia ilmiah. Ia menyebutkan bahwa peningkatan intensitas cahaya Matahari dari waktu ke waktu menjadi faktor utama yang memengaruhi keseimbangan atmosfer.

Seiring bertambahnya usia Matahari, panas yang dipancarkan akan semakin meningkat. Kondisi ini memicu serangkaian perubahan, mulai dari peningkatan suhu global, penguapan air di permukaan Bumi, hingga melemahnya siklus karbon. Dampaknya, tumbuhan yang menjadi penghasil utama oksigen akan semakin sulit bertahan.

Ketika produksi oksigen menurun drastis, atmosfer Bumi diperkirakan akan kembali menyerupai kondisi purba, yakni kaya akan metana dan minim oksigen seperti pada era awal pembentukan planet.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penurunan oksigen kemungkinan terjadi sebelum Bumi memasuki fase rumah kaca ekstrem, di mana sebagian besar air di permukaan akan menguap.

Selain faktor Matahari, interaksi kompleks antara mantel, lautan, atmosfer, dan kerak Bumi turut memengaruhi proses tersebut. Siklus karbonat-silikat yang selama ini menjaga keseimbangan karbon di atmosfer juga diprediksi akan melemah, mempercepat penurunan kadar oksigen.

Temuan ini memperbarui perkiraan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kehidupan di Bumi bisa bertahan hingga dua miliar tahun. Dengan data terbaru, para ilmuwan kini memperkirakan proses penurunan oksigen akan terjadi lebih cepat, yakni sekitar satu miliar tahun dari sekarang.

Disorot Usai Video Joget, Mitra MBG Dapat Rp6 Juta per Hari dan Lapor Polisi

Meski masih sangat jauh dari waktu saat ini, penelitian ini memberikan gambaran penting tentang masa depan planet Bumi. Selain itu, studi ini juga menjadi dasar bagi ilmuwan dalam mencari tanda-tanda kehidupan di planet lain, termasuk kemungkinan kehidupan dalam kondisi atmosfer dengan kadar oksigen rendah.

Dengan demikian, meski manusia saat ini masih dapat menikmati udara yang melimpah, para ilmuwan mengingatkan bahwa keberlangsungan kehidupan di Bumi tetap dipengaruhi oleh proses alam jangka panjang yang tidak dapat dihindari.***

Berita Lainnya
Video Lingkaran
Berita Populer Bulan ini
Program Kontributor Lingkaran ID
Berita Terbaru
banyuasin.cerdas|ESN